Haruskah dalam berbisnis menggunakan insting?

Haruskah dalam berbisnis menggunakan insting? 

Terkadang insting bisnis mengatakan suatu ide dapat menjadi lahan usaha atau bisnis baru. Tetapi, apakah bisa dipercaya? Sebagian orang ada yang menganjurkan untuk mempercayainya.

Insting adalah sesuatu yang membuat diri kita bergerak maju dan insting sebetulnya datang karena melalui suatu proses pengamatan atau obervasi.

Bahkan insting dikatakan sebagai naluri yang tidak pernah menipu atau memanipulasi. Tentu pengamatan ini bukan hanya melihat keberhasilan teman atau tetangga, dan lalu ikut-ikutan. Pengamatan ini menggerakkan seluruh panca indera dan mengaktifkan semuanya untuk fokus kepada satu titik perhatian yang dituju.

Gali ide, menggunakan insting

Sehingga kita bisa melihat peluang dan kesempatan dan berani menyimpulkan bahwa suatu ide dapat dilakukan dan make sense untuk memperoleh keuntungan dari sana. Beberapa peneliti menambahkan untuk menjadi usaha yang berhasil, insting bisnis ini perlu diikuti oleh serangkaian ‘pekerjaan rumah’ yang harus dilakukan. Karena, bisnis itu butuh persiapan dan perhitungan.

Misalnya, insting mengarahkan untuk membuka usaha peternakan ikan lele, maka pe-er selanjutnya adalah harus dilakukan perhitungan lebih dulu. Hitunglah hal-hal seperti: kebutuhan tanah untuk peternakan, bentuk kolam, bagaimana kebutuhan airnya, berapa banyak lele yang harus dibenihkan, bagaimana perawatannya, siapa dan berapa banyak SDM yang membantu untuk pengelolaannya, hingga perkiraan berapa penjualan dan pemasaran.

Sebagai pemula langkah awal dan paling bijaksana memulai usaha adalah dari sesuatu yang sudah dikenal. Dan dirasakan mampu untuk mengerjakannya. Ini akan membuat pengusaha lebih mengerti soal produksi, kualitas serta menentukan harga dan target pasar. Itulah kenapa umumnya terjadi jika orang tua pengusaha maka anak-anaknya pun tidak jauh menjadi pengusaha. Bukan karena persoalan “darah pengusaha” lebih karena si-anak sedari dini tumbuh berkembang dilingkungan orang tua yang melalukan usaha dan biasanya anak pun akan melakukan usaha yang tidak jauh dari usaha orang tuanya. Maka dari itu ide dan instingnya pun dirasa lebih untuk mengikuti jenis usaha yang dilakukan oleh orang tuanya.

Insting biasanya dikaitkan dengan: “naluri saya kok” “feeling saya rasanya ini usaha yang tepat”.

 

Author: Rafian Noor

Digitalpreneur | Digital Nomad | Digital enthusiasticDescription: - Ingin Mahir Internet Marketing? - Ingin dapat income dari Internet Marketing? - Ingin dapat Ilmu GRATIS Internet Marketing selama 3 tahun nonstop GRATIS?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *